Skip to main content

Labels

PENA INFO

Pola Komunikasi dan Pengasuhan Orang Tua pada Anak

Komunikasi dalam keluarga sangatlah penting. Terlebih lagi komunikasi orang tua pada anaknya. Pola komunikasi dan gaya pengasuhan orang tua tentu menjadi kunci dalam harmonisnya sebuah keluarga.

Berikut ini ulasan mengenai gaya komunikasi dan gaya pengasuhan orang tua terhadap anak.

Gaya Komunikasi

Komunikasi adalah salah satu yang sering dikeluhkan orangtua. Remaja mendadak diam seribu bahasa atau tidak lagi mau berbincang dengan ibu dan bapaknya sehingga membuat remaja menjauh dari keluarga.

“Aneh tapi nyata” mengingat bicara sudah dilakukan sejak remaja dalam kandungan, bahkan sejak dari buaian.

Komunikasi sejatinya adalah dialog dua pihak untuk bertukar pesan dengan tujuan terjalinnya relasi, interaksi, dan rasa percaya antar-kedua pihak.

Tidak ada tujuan komunikasi untuk menghukum atau marah-marah. Luapan emosi dalam bentuk apapun tidak akan memberi manfaat dalam proses komunikasi.

Bagi remaja tentu menyebalkan jika komunikasi oleh orangtua dilakukan hanya saat ada masalah atau hendak memberikan nasihat.

Dengan memahami gaya komunikasi remaja, orangtua akan bisa mengidentifikasi kebutuhan dan tujuan komunikasi mereka.

Macam-Macam Gaya Komunikasi

Orangtua dapat mengupayakan keberhasilan komunikasinya dengan menggunakan gaya komunikasi tertentu. Berikut ini macam-macam gaya komunikasi dari orangtua pada remaja.

Asertif

  • Pesan disampaikan secara jelas dan lugas
  • Menghormati hak lawan bicara
  • Menggunakan “I message” 
  • Contoh: Ibu khawatir keselamatan kamu. Tolong kabari Ibu ya kalau kamu pulang terlambat.

Agresif

  • Cenderung mengintimidasi lawan bicara
  • Bertujuan menguasai lawan bicara
  • Contoh: Kok telat pulangnya? Kan, ibu sudah bilang jam 18 sudah harus sampai di rumah. Kamu enggak dengerin sih omongan ibu. Awas kalau besok telat lagi, tidak ibu kasih jajan.

Pasif-agresif

  • Mirip dengan gaya agresif, namun secara tidak langsung
  • Mengambil keuntungan dari pihak lain
  • Menggunakan gaya kebalikan dari gaya agresif
  • Contoh: Oh, masih ingat pulang. Ke mana saja kamu? Kirain sudah punya rumah lain. Sebagai hukuman, kamu cuci piring seminggu ini ya.

Manipulatif

  • Penuh dengan drama
  • Mengambil keuntungan dari pihak lain
  • Membuat pihak lain merasa bersalah
  • Mencurahkan segenap kemampuan bermain peran, termasuk dengan derai air mata
  • Contoh: Kamu enggak sayang deh sama Ibu kalau begini (mulai terisak-isak). Ibu kan bingung nunggu kamu pulang. Kalau ada apa-apa, bagaimana? (menangis). Mana Ibu dimarahin sama Bapak karena kamu enggak pulang. Kamu enggak kasihan ya sama Ibu? Kamu kasih tahu ya ke manapun kamu pergi? Janji?

Submisif

  • Menyenangkan orang lain karena menghindari konflik
  • Tidak ada teguran atau pertanyaan ingin tahu meski remaja pulang terlambat misalnya
  • Tidak memedulikan aturan
  • Menyerahkan semua pada pihak lain
  • Biasanya merasa inferior terhadap lawan bicara
  • Contoh: Ya sudah, ganti baju dan istirahat sana.

Langsung

  • Bersifat segera dan sekaligus memberi informasi
  • Terkesan seperti memberi instruksi
  • Sangat efektif jika terkendala waktu yang terbatas
  • Contoh: Dengar ya, besok kalau jam 18.00 kamu masih di jalan, kamu langsung telepon Ibu untuk kasih tahu posisimu. Paham?

Tidak langsung

  • Berkebalikan dari gaya langsung, pesan yang disampaikan tidak jelas
  • Dapat menyebabkan banyak permasalahan
  • Contoh: Kamu kok pulangnya malam sekali? Kan kamu juga yang repot, hari gini pasti susah cari angkot. Banyak orang jahat. Kalau kamu celaka, nanti sekolahmu bagaimana? Kalau kamu sakit, ibu dan bapak juga yang bingung. Semua orang jadi repot. Di rumah jadi banyak kerjaan, enggak ada yang bantuin.

Dengan menyadari gaya komunikasi yang sering kita gunakan, kita bisa melatih diri untuk menggunakan gaya yang lebih sesuai agar proses komunikasi dengan remaja menjadi lebih baik.

Remaja butuh untuk diterima dan dipahami oleh lingkungannya, termasuk keluarga. Dalam proses komunikasi dengan remaja, yang perlu diperhatikan orangtua:

Penghayatan
  • Mencurahkan segenap pikiran dan perasaan
  • Fokus pada remaja dengan memandang matanya, menyentuh tangan atau punggung untuk menunjukkan kita peduli dengan yang ia rasa, pikir, dan katakan
Penerimaan
  • Terima yang disampaikan remaja, tanpa menghentikan atau menunjukkan ketidaksetujuan secara langsung
  • Biarkan remaja mengeluarkan emosi yang dirasakan
  • Bantu remaja mengelola emosi jika diperlukan
  • Tunjukkan empati
  • Jika tidak setuju, tahan diri, dan sampaikan saat giliran orangtua menanggapi
Mendengarkan
  • Remaja terkadang tidak perlu jawaban
  • Remaja hanya butuh didengarkan sehingga mereka merasa penting dan istimewa karena berhasil membuat orangtua meluangkan waktu mendengarkan mereka
Menanggapi
  • Merespon dengan tepat
  • Pilih gaya komunikasi yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi saat komunikasi berlangsung
  • Hindari gaya komunikasi yang dapat menimbulkan masalah di kemudian hari
  • Sesuaikan tanggapan dengan tujuan komunikasi

Gaya Pengasuhan

Gaya pengasuhan sebenarnya bukan faktor tunggal pembentuk kepribadian seseorang. Namun, setiap gaya pengasuhan akan menghasilkan tipe anak yang berbeda.

Hal lain yang berpengaruh pada terbentuknya kepribadian seseorang adalah faktor lingkungan (nurture) dan internal (nature). Secara garis besar, ada tiga tipe gaya pengasuhan, yakni otoriter, permisif, dan apresiatif.

Gaya otoriter (O)

  • Menghasilkan anak yang pasif karena semua keputusan ditentukan orangtua
  • Anak tidak memiliki kendali terhadap diri sendiri karena semua diatur dan diarahkan orangtua

Gaya permisif (P)

  • Anak menunjukkan perilaku membangkang tanpa aturan karena orangtua tidak memberi arahan dan aturan yang jelas
  • Anak sulit mengantisipasi, mudah curiga, dan tidak percaya dengan lingkungan karena tidak adanya konsistensi aturan dari orangtua

Gaya apresiatif (A)

  • Anak kooperatif karena orangtua menerapkan aturan yang konsisten
  • Anak mampu mengantisipasi konsekuensi dan mengarahkan perilakunya
  • Anak tampil percaya diri karena yakin perilakunya tepat sesuai dengan penerapan aturan yang konsisten

Gaya pengasuhan dapat dikenali dari cara komunikasi orangtua dan anak, penerapan aturan dalam rumah, dan peran orangtua dalam pembagian tangung jawab di dalam rumah.

Bisa jadi, untuk jangka waktu tertentu orangtua menunjukkan gaya pengasuhan A, namun di waktu lainnya berubah menjadi gaya pengasuhan B atau C. Perubahan ini dimungkinkan karena situasi yang dihadapi keluarga.

Otoriter:
  • Suka menuntut
  • Tidak responsif
  • Mengharapkan anak patuh dan taat
  • Menghukum anak saat tidak patuh
  • Tidak memberikan alasan, yang penting “pokoknya”
  • Lebih menghargai prestasi, disiplin, perintah, dan kontrol pribadi
Permisif:
  • Tidak menuntut
  • Responsif
  • Mengabulkan semua permintaan dan kebutuhan anak
  • Enggan menerapkan aturan dan harapan pada anak
  • Enggan berkata “tidak” dan menerapkan konsekuensi terhadap yang sudah disepakati
  • Berpikir anak tidak bisa salah
Apresiatif:
  • Responsif
  • Menerapkan standar, harapan, dan batas yang tinggi beserta konsekuensinya
  • Hangat dan responsif terhadap emosi anak
  • Memberi anak kebebasan untuk berekspresi, memilih, dan mengalami kegagalan
3 gaya pengasuhan itu adalah teori klasik dari Diana Baumrind. Dalam perkembangannya, banyak ahli sepakat untuk menambahkan 1 gaya pengasuhan lagi berdasarkan pada cara orangtua dalam memenuhi kebutuhan anaknya, yaitu uninvolved atau neglect atau Pembiaran.

Gaya ke-4 ini merujuk pada orangtua yang mengabaikan kebutuhan fisik dan emosi anak, juga keamanan, kesehatan, dan perawatan anak.

Ciri-cirinya:
  • Sering tidak berada di rumah dan meninggalkan anak nya sehingga anak harus mengurus dirinya sendiri.
  • Orangtua lebih nyaman beraktivitas tanpa anak.
  • Tidak kenal dan tidak peduli dengan lingkungan dan orang-orang yang berada di sekitar anak (teman, guru, dsb).
  • Menjadikan pekerjaan atau kesibukan sebagai alasan ketidakhadiran/keterlibatan sebagai orangtua.
Apapun gaya pengasuhan Anda sekarang, remaja hanya butuh kenyamanan, dimengerti, dan merasa didengarkan oleh orangtua. Apakah gaya Anda sudah sesuai dengan kebutuhan itu?

Orangtua perlu bertindak sebagai mentor bagi remaja dan mengembangkan pola komunikasi yang dapat mendorong remaja berkembang lebih optimal.

Hal yang patut selalu diingat, remaja tengah mengalami perubahan. Ia bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum benar-benar menjadi orang dewasa.

Ia butuh pendampingan untuk melalui masa perubahan itu. Orangtua pernah mengalami masa-masa itu tetapi tidak begitu dengan remaja.

Remaja juga bukanlah cetakan atau duplikasi orangtua. Mereka adalah individu yang kelak harus mandiri menentukan pilihan dan jalan hidupnya. Mereka butuh konsep diri yang positif untuk mengetahui kemampuan diri dan apa yang mereka inginkan dan yakini.

Konsep diri terbentuk dari hasil interaksi dengan keluarga dan lingkungan pertemanan. Ini butuh proses, tidak bisa sekali jadi. Salah satunya lewat interaksi di rumah.

Nah sekian ulasan mengenai pola komunikasi dan pengasuhan orang tua pada anak. Semoga bermanfaat.

You Might Also Like:

Comment Policy: Sahabat Pena Info, silahkan berkomentar dengan bijak sesuai topik postingan halaman ini. Ingat, komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar